Oleh: Capt. Tommy Hendratno, Founder crmaviationacademy.id dan Mahasiswa Manajemen Pendidikan Universitas Pakuan

Dalam ekosistem keselamatan penerbangan modern, Crew Resource Management (CRM) dirancang sebagai instrumen utama untuk memitigasi kelemahan dan kesalahan manusia (Helmreich, Merritt, & Wilhelm, 1999). Namun, seiring bergantinya generasi pelatihan, pemahaman tentang CRM mengalami penurunan kualitas atau distorsi yang cukup mengkhawatirkan (International Civil Aviation Organization [ICAO], 2003). Banyak awak pesawat masa kini yang secara sempit mengartikan CRM hanya sebatas “pelatihan agar kita bisa bekerja sama dengan lebih baik.”
Pandangan ini sangat menjebak, karena mereduksi CRM menjadi sekadar etika komunikasi dan upaya mencari keharmonisan di tempat kerja. Padahal, inti dari CRM adalah Threat and Error Management (TEM), yaitu taktik proaktif untuk mendeteksi ancaman dan memitigasi kesalahan operasional sebelum tereskalasi menjadi bencana (Helmreich et al., 1999). Krisis pemahaman ini ternyata tidak bermula di kokpit maskapai komersial, melainkan berakar dari fase paling awal pendidikan pilot, yakni di Sekolah Penerbangan (Flying School).
Bahaya Kesenjangan Otoritas di Ruang Kelas Di berbagai institusi pendidikan penerbangan, kurikulum terkait pengelolaan faktor manusia sering kali hanya diajarkan sebagai pemenuhan syarat administratif belaka (Sitompul, Kurniawanto, Hartono, Arif, & Simamora, 2025). Lebih jauh lagi, banyak sekolah penerbangan masih gagal membangun apa yang disebut dengan psychological safety atau rasa aman secara psikologis bagi siswanya (Hendratno, 2026).
Akibat tingginya authority gradient (kesenjangan otoritas) antara instruktur dan siswa, para kadet sering kali merasa takut untuk bertanya, menyuarakan kekhawatiran operasional, atau mengoreksi anomali karena tidak ingin dicap sebagai individu yang tidak kompeten (Hendratno, 2026). Dalam lingkungan hierarkis yang kaku ini, kerja sama dan ketaatan yang ditunjukkan siswa bukanlah bentuk kolaborasi yang kritis untuk keselamatan, melainkan kepatuhan buta demi menyenangkan instruktur semata.
Bukti dari Kondisi Lapangan Dampak dari kegagalan pendidikan ini sangat terukur dan nyata di lapangan. Sebuah studi yang meneliti perilaku siswa penerbang saat menghadapi kondisi cuaca angin kencang tidak stabil (gusty wind) di Bandar Udara Banyuwangi membuktikan bahwa keterlambatan siswa dalam membatalkan pendaratan (go-around) jarang disebabkan oleh kurangnya kemampuan teknis (Sitompul et al., 2025).
Keterlambatan mengambil keputusan kritis tersebut justru dipicu oleh tekanan psikologis dominan, seperti ego, rasa takut dianggap gagal oleh instruktur, dan kelumpuhan analitis saat menghadapi tekanan (Sitompul et al., 2025). Hal ini menjadi bukti kuat bahwa harmoni kokpit dan teori pengambilan keputusan di kelas akan terkalahkan oleh rasa sungkan dan kurangnya kemandirian mental saat menghadapi krisis nyata.
Intervensi Strategis: Transformasi Kurikulum dan Instruktur Untuk mengembalikan muruah CRM sebagai alat ukur dan mitigasi bencana, sekolah penerbangan di Indonesia harus segera melakukan reformasi metode pengajaran melalui tiga langkah utama:
Pertama, Transisi Menuju Competency-Based Training and Assessment (CBTA). Sekolah penerbangan harus beralih dari silabus tradisional yang hanya mengejar jumlah jam terbang, menuju kurikulum berbasis kompetensi nyata (International Air Transport Association [IATA], 2020). Dalam matriks CBTA, kemampuan manajemen ancaman (TEM) diintegrasikan secara utuh ke dalam seluruh profil pilot (ICAO, 2020). Kelulusan tidak dinilai dari seberapa ramah siswa berinteraksi, melainkan pada efektivitas mereka menggunakan komunikasi sebagai penangkal untuk mengatasi ancaman nyata operasional (IATA, 2020).
Kedua, Optimalisasi Scenario-Based Training (SBT). Teori pengambilan keputusan tidak cukup hanya dihafal; ia harus diuji melalui simulasi skenario yang mencerminkan kompleksitas sesungguhnya (Sitompul et al., 2025). Siswa harus secara rutin dipaparkan pada tekanan lingkungan yang tinggi, seperti cuaca ekstrem atau kegagalan instrumen, agar mereka menyadari bahwa kerja sama tim yang baik adalah taktik bertahan hidup operasional, bukan sekadar formalitas.
Ketiga, Menanamkan Psychological Safety Melalui Peran Instruktur. Manajemen sekolah penerbangan harus mewajibkan para instrukturnya untuk membangun ruang kokpit latih yang aman secara psikologis. Instruktur harus mengubah peran dari figur otoritas yang ditakuti menjadi fasilitator budaya adil (just culture) (Hendratno, 2026). Kesalahan siswa pada masa latihan harus dibedah sebagai bahan diskusi pembelajaran, bukan sebagai alasan untuk menghukum atau mempermalukan. Mengurangi kesenjangan otoritas sejak awal pendidikan akan mencetak calon perwira pertama yang berani dan asertif.
Kerja sama yang baik dan kohesif di kokpit memang penting, namun itu hanyalah alat, bukan tujuan akhir. Tujuan akhirnya adalah kemampuan mendeteksi ancaman secara dini dan memitigasi kesalahan. Sudah saatnya otoritas dan sekolah penerbangan membongkar ilusi ini dan memperbaiki kualitas pendidikan mereka. Keselamatan penerbangan di masa depan sangat bergantung pada pilot yang tidak hanya pandai mengemudikan pesawat dan bersikap kooperatif, tetapi juga memiliki ketajaman analisis dan keberanian moral untuk mencegah bencana.
Daftar Pustaka
Helmreich, R. L., Merritt, A. C., & Wilhelm, J. A. (1999). The evolution of crew resource management training in commercial aviation. International Journal of Aviation Psychology, 9(1), 19-32.
Hendratno, T. (2026). Psychological safety dalam flying school: Proyek yang sering dilupakan. CRM Aviation Academy. Diambil dari https://crmaviationacademy.id/psychological-safety-dalam-flying-school-proyek-yang-sering-dilupakan/
International Air Transport Association (IATA). (2020). Competency-based training and assessment (CBTA) expansion within the aviation system: White paper.
International Civil Aviation Organization (ICAO). (2003). Human factors training manual (Doc 9683-AN/950).
International Civil Aviation Organization (ICAO). (2020). Procedures for air navigation services – Training (PANS-TRG) (Doc 9868).
Sitompul, B. P., Kurniawanto, H., Hartono, B., Arif, R., & Simamora, E. M. B. (2025). Analisis faktor-faktor yang mempengaruhi keputusan go-around oleh siswa penerbang dalam kondisi gusty wind di runway bandar udara Banyuwangi. Jurnal Riset Rumpun Ilmu Teknik, 4(3), 578-588. https://doi.org/10.55606/jurritek.v4i3.6821





