Dua Belas Musuh yang Tidak Terbang Bersama Kita, Tetapi Selalu Ada di Kokpit

Ketika mendengar kata ancaman dalam penerbangan, kebanyakan orang langsung membayangkan cuaca buruk, kegagalan mesin, atau turbulensi berat.

Padahal, sejarah keselamatan penerbangan menunjukkan sesuatu yang berbeda.

Banyak insiden dan kecelakaan tidak dimulai oleh kerusakan pesawat.

Tidak pula oleh badai besar.

Mereka dimulai oleh sesuatu yang jauh lebih sederhana:

manusia.

Atau lebih tepatnya, faktor-faktor yang memengaruhi cara manusia berpikir, berkomunikasi, dan mengambil keputusan.

Untuk membantu memahami penyebab utama human error, Transport Canada memperkenalkan konsep yang kemudian dikenal luas sebagai Dirty Dozen—dua belas faktor manusia yang paling sering berkontribusi terhadap kesalahan.

Menariknya, dua belas faktor ini tidak hanya relevan bagi teknisi pesawat.

Mereka juga hidup di kokpit, ruang briefing, kantor operasional, bahkan dalam kehidupan sehari-hari.

Mari kita kenali satu per satu.

1. Lack of Communication

Ketika Informasi Penting Berhenti Mengalir

Banyak kecelakaan bukan terjadi karena tidak ada informasi.

Tetapi karena informasi tidak sampai kepada orang yang membutuhkannya.

Kadang kita berasumsi.

Kadang kita lupa.

Kadang kita merasa orang lain sudah tahu.

Padahal dalam keselamatan, informasi yang tidak disampaikan sama bahayanya dengan informasi yang tidak diketahui.

CRM lahir karena pelajaran sederhana ini:

Komunikasi yang buruk dapat mengalahkan kompetensi yang hebat.

2. Complacency

Terlalu Nyaman untuk Tetap Waspada

Musuh terbesar profesional berpengalaman sering kali bukan ketidaktahuan.

Melainkan kenyamanan.

Ketika suatu pekerjaan dilakukan ratusan atau ribuan kali, muncul perasaan:

“Saya sudah tahu.”

“Pasti tidak ada masalah.”

Dan pada saat itulah perhatian mulai menurun.

Ancaman tidak pernah memberi tahu kapan ia akan muncul.

Karena itu, kewaspadaan tidak boleh bergantung pada tingkat pengalaman.

3. Lack of Knowledge

Tidak Tahu Bahwa Kita Tidak Tahu

Tidak semua kesalahan berasal dari kelalaian.

Sebagian berasal dari kurangnya pengetahuan.

Masalahnya, seseorang sering kali tidak menyadari bahwa dirinya belum memahami sesuatu secara utuh.

Inilah mengapa budaya belajar dan bertanya sangat penting.

Dalam penerbangan, tidak ada rasa malu untuk belajar.

Yang berbahaya adalah berpura-pura sudah tahu.

4. Distraction

Gangguan Kecil yang Menghasilkan Kesalahan Besar

Sebuah panggilan telepon.

Sebuah percakapan.

Sebuah pesan.

Sebuah pertanyaan.

Gangguan kecil dapat membuat seseorang kehilangan fokus hanya beberapa detik.

Tetapi beberapa detik itu cukup untuk melewatkan langkah penting dalam prosedur.

Karena itulah pilot sering mengatakan:

“Aviate, Navigate, Communicate.”

Prioritas harus tetap terjaga.

5. Lack of Teamwork

Saat Orang Hebat Gagal Menjadi Tim Hebat

Sebuah tim tidak otomatis terbentuk hanya karena semua anggotanya kompeten.

Teamwork membutuhkan:

* Kepercayaan.

* Komunikasi.

* Kolaborasi.

* Saling mendukung.

Banyak orang mampu bekerja keras.

Tidak semua orang mampu bekerja bersama.

Dan dalam penerbangan, keselamatan bergantung pada kerja sama, bukan individualisme.

6. Fatigue

Ancaman yang Tidak Terlihat

Fatigue adalah musuh yang sangat licik.

Ia tidak berbunyi seperti alarm.

Ia tidak berkedip seperti warning light.

Ia datang perlahan.

Dan sering kali orang yang lelah tidak menyadari bahwa dirinya sedang mengalami penurunan performa.

Fatigue memengaruhi:

* Konsentrasi.

* Memori.

* Pengambilan keputusan.

* Situational awareness.

Tidak ada pilot yang kebal terhadapnya.

7. Lack of Resources

Ketika Kita Harus Bekerja dengan Keterbatasan

Sumber daya tidak selalu berarti uang.

Sumber daya bisa berupa:

* Waktu.

* Informasi.

* Peralatan.

* Personel.

* Dukungan organisasi.

Keterbatasan sumber daya sering kali memaksa manusia mengambil jalan pintas.

Dan setiap jalan pintas selalu membawa risiko.

8. Pressure

Musuh yang Memakai Jam Tangan

Tekanan datang dalam berbagai bentuk.

Schedule pressure.

Operational pressure.

Social pressure.

Self-imposed pressure.

Kalimat yang sering menjadi awal masalah adalah:

“Ayo cepat.”

Ketika kecepatan mulai mengalahkan kualitas pengambilan keputusan, risiko mulai meningkat.

9. Lack of Assertiveness

Mengetahui Risiko Tetapi Tidak Mengatakannya

Pernahkah Anda merasa ada sesuatu yang tidak benar tetapi memilih diam?

Jika ya, Anda tidak sendirian.

Banyak insiden menunjukkan bahwa seseorang sebenarnya telah melihat masalah sejak awal.

Namun ia tidak cukup tegas untuk menyampaikan kekhawatirannya.

Dalam CRM, keberanian berbicara adalah bagian dari keselamatan.

10. Stress

Ketika Pikiran Terlalu Penuh

Sedikit stres dapat membantu meningkatkan performa.

Terlalu banyak stres justru sebaliknya.

Stres dapat membuat:

* Fokus menyempit.

* Kreativitas menurun.

* Kemampuan berpikir jangka panjang berkurang.

Dan yang paling berbahaya, stres sering membuat seseorang hanya melihat masalah yang ada di depan mata.

11. Lack of Awareness

Tidak Menyadari Apa yang Sedang Terjadi

Situational Awareness adalah kemampuan memahami:

* Apa yang sedang terjadi.

* Mengapa hal itu terjadi.

* Apa yang mungkin terjadi berikutnya.

Ketika awareness hilang, keputusan yang baik menjadi jauh lebih sulit dibuat.

Karena kita tidak bisa mengelola ancaman yang tidak kita sadari.

12. Norms

“Kami Selalu Melakukannya Seperti Ini”

Ini mungkin faktor paling berbahaya.

Karena terlihat normal.

Sebuah penyimpangan kecil dilakukan berulang kali.

Tidak terjadi masalah.

Akhirnya dianggap aman.

Lalu menjadi kebiasaan.

Lalu menjadi budaya.

Padahal aman dan terbiasa adalah dua hal yang berbeda.

Kalimat:

“Sudah biasa kok.”

telah menjadi awal dari banyak masalah keselamatan.

Dirty Dozen yang Sesungguhnya

Jika diperhatikan, hampir semua faktor dalam Dirty Dozen memiliki satu kesamaan.

Mereka tidak muncul tiba-tiba.

Mereka berkembang perlahan.

Sedikit demi sedikit.

Hampir tidak terlihat.

Dan justru karena itulah mereka berbahaya.

Tidak ada warning light untuk complacency.

Tidak ada ECAM message untuk ego.

Tidak ada weather radar untuk pressure.

Tidak ada GPWS untuk poor communication.

Karena itu, satu-satunya cara menghadapinya adalah dengan kesadaran dan disiplin profesional.

Penutup

Pesawat modern memiliki teknologi yang luar biasa.

Radar cuaca.

TCAS.

EGPWS.

Fly-by-wire.

Automatic monitoring system.

Namun secanggih apa pun teknologi yang kita miliki, faktor manusia tetap menjadi bagian penting dari keselamatan.

Dirty Dozen mengingatkan kita bahwa ancaman terbesar sering kali bukan berada di luar pesawat.

Melainkan di dalam diri kita sendiri.

Dan mungkin itulah pelajaran terpentingnya:

Keselamatan bukan hanya tentang mengelola pesawat. Keselamatan adalah tentang mengelola manusia yang mengoperasikan pesawat tersebut.

Karena pada akhirnya, musuh terbesar dalam penerbangan bukanlah dua belas faktor itu.

Musuh terbesar adalah ketika kita berhenti menyadari bahwa dua belas faktor tersebut bisa terjadi pada siapa saja, termasuk diri kita sendiri.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *