Sebuah Pesan untuk First Officer, Cabin Crew, dan Siapa Pun yang Melihat Risiko

Di setiap penerbangan, ada banyak suara yang terdengar.

Suara mesin.

Suara ATC.

Suara callout.

Suara briefing.

Suara checklist.

Namun ada satu suara yang sering kali tidak terdengar.

Suara seseorang yang sebenarnya melihat risiko.

Tetapi memilih diam.

Dan dalam banyak kasus, keselamatan tidak gagal karena tidak ada yang tahu.

Keselamatan gagal karena orang yang tahu tidak berbicara.

Saya Tidak Meminta Kalian Selalu Benar

Sebagai seorang captain, saya tidak berharap First Officer selalu benar.

Saya tidak berharap cabin crew selalu benar.

Saya tidak berharap setiap masukan selalu akurat.

Karena saya juga tidak selalu benar.

Yang saya harapkan jauh lebih sederhana:

Jika kalian melihat sesuatu, katakanlah.

Jika ada yang terasa tidak tepat, sampaikan.

Jika ada yang membuat kalian tidak nyaman, ungkapkan.

Jika ada yang menurut kalian perlu diperiksa ulang, bicarakan.

Karena lebih baik mendiskusikan sepuluh kekhawatiran yang ternyata tidak penting daripada melewatkan satu kekhawatiran yang ternyata sangat penting.

Kesalahan Besar Sering Diawali Kalimat Ini

Dalam banyak insiden, ada satu kalimat yang hampir selalu muncul setelah kejadian.

“Sebenarnya saya sudah merasa ada yang tidak beres.”

Kalimat itu menyakitkan untuk didengar.

Karena artinya ancaman sebenarnya sudah terdeteksi.

Risiko sebenarnya sudah terlihat.

Tanda-tanda sebenarnya sudah ada.

Tetapi semuanya tetap berada di dalam pikiran seseorang.

Tidak pernah keluar menjadi informasi.

Tidak pernah menjadi diskusi.

Tidak pernah menjadi tindakan.

Dan ketika ancaman berkembang menjadi masalah, semuanya sudah terlambat.

Jangan Menunggu Menjadi Captain untuk Peduli

Ada anggapan yang kadang muncul secara tidak sadar.

“Itu tugas captain.”

“Biar captain yang memutuskan.”

“Saya hanya First Officer.”

“Saya hanya cabin crew.”

“Saya hanya junior.”

Tidak.

Keselamatan bukan milik captain.

Keselamatan adalah tanggung jawab seluruh tim.

Captain memang mengambil keputusan akhir.

Tetapi keputusan terbaik hanya dapat dibuat jika seluruh informasi tersedia.

Dan sering kali informasi itu justru datang dari orang yang tidak duduk di kursi kiri.

Saya Lebih Takut pada Kru yang Diam

Banyak orang berpikir captain lebih menyukai kru yang patuh.

Kru yang tidak banyak bertanya.

Kru yang tidak banyak berpendapat.

Kru yang selalu mengangguk.

Padahal kenyataannya, kru seperti itu justru dapat menjadi ancaman yang tidak terlihat.

Saya lebih nyaman terbang bersama seseorang yang berkata:

“Captain, saya punya concern.”

Daripada seseorang yang hanya berkata:

“Siap, Captain.”

Lalu menyimpan semua keraguannya sendiri.

Karena kru yang berpikir adalah aset.

Kru yang diam adalah misteri.

Dan dalam keselamatan, misteri tidak pernah membantu.

Bisu Tidak Sama dengan Hormat

Ada perbedaan besar antara menghormati dan membisu.

Menghormati berarti menyampaikan pendapat dengan profesional.

Membisu berarti menyimpan informasi yang mungkin penting.

Menghormati berarti mendukung keputusan yang baik.

Membisu berarti membiarkan potensi kesalahan tidak terkoreksi.

Menghormati berarti berbicara pada waktu yang tepat.

Membisu berarti tidak berbicara sama sekali.

Dan dalam dunia penerbangan, keselamatan tidak pernah meminta kita untuk membisu.

Captain Juga Bisa Salah

Mari kita jujur.

Captain bisa salah.

Instructor bisa salah.

Examiner bisa salah.

Chief Pilot bisa salah.

Manajer bisa salah.

Direktur bisa salah.

Semakin cepat kita menerima kenyataan itu, semakin aman organisasi kita.

Karena jika kita percaya bahwa seseorang terlalu senior untuk dikoreksi, maka kita sedang menciptakan celah besar dalam sistem keselamatan.

Kalimat yang Mungkin Menyelamatkan Penerbangan

Banyak orang membayangkan keselamatan diselamatkan oleh keputusan heroik.

Padahal sering kali keselamatan diselamatkan oleh kalimat sederhana.

“Captain, apakah kita sudah mempertimbangkan ini?”

“Captain, saya melihat sesuatu.”

“Captain, saya kurang nyaman dengan situasi ini.”

“Captain, boleh kita evaluasi ulang?”

Tidak terdengar dramatis.

Tidak terdengar heroik.

Tetapi justru kalimat-kalimat seperti itulah yang menjaga lapisan keselamatan tetap utuh.

Jangan Takut Terlihat Salah

Salah satu alasan terbesar orang memilih diam adalah ketakutan.

Takut dianggap tidak kompeten.

Takut dianggap terlalu banyak bicara.

Takut ternyata kekhawatirannya tidak penting.

Namun mari pikirkan sejenak.

Apa yang lebih buruk?

Mengajukan pertanyaan yang ternyata tidak diperlukan?

Atau tidak mengajukan pertanyaan yang ternyata sangat diperlukan?

Dalam dunia penerbangan, jawabannya jelas.

Tidak ada yang akan menghukum Anda karena peduli terhadap keselamatan.

Untuk Para Captain

Artikel ini bukan hanya untuk First Officer atau cabin crew.

Ini juga untuk para captain.

Karena jika kru memilih diam, kita perlu bertanya:

“Apakah saya menciptakan lingkungan yang membuat mereka enggan berbicara?”

Karena keberanian kru untuk berbicara sering kali merupakan refleksi dari kepemimpinan yang mereka rasakan.

Jika kru merasa aman, mereka akan berbicara.

Jika kru takut, mereka akan diam.

Dan keheningan di kokpit sering kali lebih berbahaya daripada suara perdebatan profesional.

Penutup

Untuk semua First Officer.

Untuk semua cabin crew.

Untuk semua pilot junior.

Untuk semua anggota tim.

Saya hanya ingin menyampaikan satu pesan sederhana:

Jangan kalian bisu.

Jika melihat ancaman, katakan.

Jika memiliki keraguan, sampaikan.

Jika ada yang terasa tidak tepat, ungkapkan.

Karena keselamatan tidak membutuhkan orang yang selalu setuju.

Keselamatan membutuhkan orang yang berani berbicara ketika sesuatu tidak terasa benar.

Dan mungkin suatu hari nanti, satu kalimat yang Anda ucapkan akan terasa biasa saja.

Tidak ada yang memberi tepuk tangan.

Tidak ada yang menganggapnya luar biasa.

Tetapi tanpa Anda sadari, kalimat itu mungkin telah mencegah sebuah kesalahan.

Mungkin telah melindungi rekan kerja Anda.

Mungkin telah menyelamatkan sebuah penerbangan.

Karena dalam dunia CRM, keberanian terbesar sering kali bukan mengambil alih kendali pesawat.

Keberanian terbesar adalah membuka mulut ketika naluri Anda berkata bahwa sesuatu perlu diperhatikan.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *