Siapa yang Akan Menegurku?

Pertanyaan yang Harus Ditanyakan Setiap Pemimpin Sebelum Terlambat

Ada sebuah pertanyaan sederhana yang jarang diajukan oleh seorang captain, manajer, instruktur, atau pemimpin.

Bukan:

“Apakah tim saya menghormati saya?”

Bukan:

“Apakah tim saya percaya pada saya?”

Bukan pula:

“Apakah tim saya mengikuti arahan saya?”

Tetapi:

“Siapa yang akan menegur saya ketika saya salah?”

Pertanyaan ini terdengar sederhana.

Namun dalam dunia penerbangan, pertanyaan tersebut dapat menjadi salah satu pertanyaan keselamatan yang paling penting.

Karena semakin tinggi posisi seseorang, semakin sedikit orang yang berani mengatakan:

“Captain, saya rasa Anda salah.”

Paradoks Kepemimpinan

Ketika seseorang pertama kali menjadi pilot, ia sering menerima banyak koreksi.

Instruktur mengoreksi.

Senior mengoreksi.

Examiner mengoreksi.

Bahkan rekan sejawat pun tidak segan memberikan masukan.

Namun seiring bertambahnya pengalaman, jabatan, dan reputasi, sesuatu mulai berubah.

Orang-orang mulai lebih berhati-hati.

Lebih sopan.

Lebih sungkan.

Lebih memilih diam.

Bukan karena Anda selalu benar.

Tetapi karena Anda memiliki otoritas.

Dan di situlah paradoks kepemimpinan muncul.

Semakin tinggi posisi seseorang, semakin besar risiko ia kehilangan umpan balik yang jujur.

Bahaya Saat Tidak Ada yang Menegur

Banyak orang menganggap kritik sebagai ancaman.

Padahal dalam keselamatan, kritik sering kali merupakan hadiah.

Karena kritik memberi kesempatan untuk memperbaiki kesalahan sebelum kesalahan itu menimbulkan konsekuensi.

Yang berbahaya bukan ketika seseorang ditegur.

Yang berbahaya adalah ketika tidak ada lagi yang berani menegur.

Karena saat itu seseorang kehilangan salah satu sistem peringatan dini yang paling penting.

Bayangkan sebuah pesawat tanpa warning system.

Mesinnya tetap berjalan.

Pesawat tetap terbang.

Tetapi pilot tidak lagi mengetahui ketika ada sesuatu yang salah.

Begitulah pemimpin yang tidak lagi menerima umpan balik.

Kesalahan Tidak Hilang Bersama Pengalaman

Ada mitos yang sering berkembang:

Semakin berpengalaman seseorang, semakin kecil kemungkinan ia melakukan kesalahan.

Faktanya, pengalaman tidak menghilangkan kesalahan.

Pengalaman hanya mengubah bentuk kesalahannya.

Pilot junior mungkin salah karena kurang pengalaman.

Pilot senior bisa salah karena terlalu yakin dengan pengalamannya.

Pemimpin baru mungkin ragu-ragu.

Pemimpin senior mungkin terlalu percaya diri.

Karena pada akhirnya, manusia tetap manusia.

Tidak peduli berapa banyak jam terbang yang dimiliki.

Tidak peduli berapa banyak sertifikat yang dimiliki.

Tidak peduli berapa tinggi jabatan yang dimiliki.

First Officer yang Diam

Bayangkan sebuah situasi.

Seorang First Officer melihat sesuatu yang menurutnya perlu dibahas.

Namun di sebelahnya duduk seorang captain yang sangat berpengalaman.

Dihormati semua orang.

Memiliki reputasi luar biasa.

FO mulai berpikir:

“Mungkin saya yang salah.”

“Beliau pasti sudah mempertimbangkan itu.”

“Tidak perlu saya sampaikan.”

Dan akhirnya ia diam.

Masalahnya bukan karena FO tidak tahu.

Masalahnya karena ia tidak yakin aman untuk berbicara.

Pertanyaannya kemudian bukan:

“Mengapa FO tidak berbicara?”

Tetapi:

“Apa yang saya lakukan sehingga FO merasa tidak perlu berbicara?”

Pemimpin Hebat Tidak Mencari Pengikut

Mereka Mencari Pengoreksi

Banyak pemimpin senang dikelilingi orang yang setuju.

Karena terasa nyaman.

Tidak ada konflik.

Tidak ada perdebatan.

Tidak ada tantangan.

Namun keselamatan tidak tumbuh dalam kenyamanan seperti itu.

Keselamatan tumbuh ketika ada orang yang berani bertanya:

“Apakah kita yakin?”

“Apakah ada alternatif lain?”

“Apakah kita melewatkan sesuatu?”

“Apakah keputusan ini masih yang terbaik?”

Orang-orang seperti inilah yang sebenarnya membantu menjaga kita tetap aman.

Cermin Terbaik Seorang Pemimpin

Suatu saat, setiap pemimpin perlu bercermin dan bertanya:

* Siapa yang berani tidak setuju dengan saya?

* Siapa yang berani mengoreksi saya?

* Siapa yang berani mengatakan bahwa keputusan saya kurang tepat?

* Siapa yang berani memberi saya kabar yang tidak ingin saya dengar?

Jika jawabannya tidak ada, maka itu bukan tanda keberhasilan.

Itu justru tanda bahaya.

Karena mungkin bukan berarti Anda selalu benar.

Mungkin hanya berarti orang lain tidak lagi merasa aman untuk jujur.

Kalimat yang Jarang Diucapkan

Ada satu kalimat yang sangat sederhana.

Tetapi memiliki dampak besar terhadap budaya keselamatan.

“Tolong beritahu saya jika saya melewatkan sesuatu.”

Kalimat itu menunjukkan kerendahan hati.

Kalimat itu menunjukkan keterbukaan.

Kalimat itu menunjukkan bahwa keselamatan lebih penting daripada ego.

Dan yang paling penting, kalimat itu membuka pintu bagi orang lain untuk berbicara.

Pemimpin yang Aman Bukan yang Tidak Pernah Salah

Kita sering mengagumi pemimpin yang terlihat sempurna.

Selalu yakin.

Selalu punya jawaban.

Selalu terlihat benar.

Tetapi dalam dunia penerbangan modern, pemimpin yang aman bukanlah pemimpin yang tidak pernah salah.

Pemimpin yang aman adalah pemimpin yang menciptakan lingkungan di mana kesalahannya dapat ditemukan sebelum menjadi masalah.

Karena tidak ada manusia yang kebal terhadap kesalahan.

Namun banyak kesalahan dapat dicegah jika ada orang yang berani menunjukkannya.

Penutup

Suatu hari nanti, setiap captain akan menghadapi keputusan penting.

Setiap pemimpin akan menghadapi situasi yang kompleks.

Setiap manusia akan membuat kesalahan.

Pertanyaannya bukan apakah kita akan salah.

Pertanyaannya adalah:

Apakah ada seseorang yang cukup berani untuk memberitahu kita bahwa kita salah?

Karena dalam banyak kasus, keselamatan tidak diselamatkan oleh orang yang paling pintar di ruangan.

Keselamatan diselamatkan oleh orang yang cukup berani untuk berkata:

“Maaf Captain, saya rasa kita perlu melihat ini sekali lagi.”

Dan mungkin, sebelum penerbangan berikutnya, ada satu pertanyaan yang layak kita tanyakan kepada diri sendiri:

“Jika saya membuat kesalahan hari ini, siapa yang akan menegur saya?”

Jika Anda belum menemukan jawabannya, mungkin itulah ancaman terbesar yang perlu segera Anda atasi.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *